Jalan Kembali

Mengisi blog ini seperti menemukan tempat dan ruang yang hening dimana dapat berbicara, bersedih dan tertawa sesekali. Jalan kembali, “pulang” atau hanya sebuah kerinduan sesaat. Tetapi sesungguhnya Saya ingin menemukannya kembali. Jika bermimpi membuat manusia itu hidup, Saya masih memiliki sebuah mimpi. Semoga itulah jalan kembali Saya….

 

Tebet Dalam Sept 6, 2013

Negara Aktif Melakukan Pelanggaran HAM, Komnas HAM harus lebih tegas!

Bertempat di kantor Komnas HAM di Jalan Latuharhari No. 4 B , Senin 7 Januari 2013 hadir sekitar kurang lebih 25 Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) diantaranya ANBTI, Arus Pelangi, ELSAM, Demos, LBH Jakarta, HRWG, KontraS yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil untuk HAM dan Komnas HAM dalam pertemuan silahturahmi dengan Komisioner Komnas HAM periode 2012 – 2017.  Anggota Koalisi diterima oleh Otto Syamsuddin Ishak Ketua Komnas HAM, Sandra Moniaga Wakil Ketua, serta Koordinator Kajian dan Penelitian Roichatul Aswidah. Pertemuan yang di mulai pukul 11.20 WIB bertujuan menyampaikan agenda atau masalah – masalah HAM yang penting dan prioritas kepada Komisioner Komnas HAM.

Koalisi Masyarakat Sipil untuk HAM dan Komnas HAM sebelumnya telah melakukan proses pemantauan seleksi anggota Komnas HAM periode 2012 – 2017. Telah terpilih 13 Komisioner Komnas HAM, 9 diantaranya berasal dari organisasi masyarakat sipil, diantaranya Roichatul Aswidah yang berasal dari Demos. Kerja Koalisi Masyarakat Sipil untuk HAM dan Komnas HAM tidak berhenti sampai terpilihnya anggota komisioner tetapi berlanjut untuk mengawal dan mengawasi Komnas HAM untuk bekerja lebih strategis dalam penegakan, penghormatan, pemajuan dan perlindungan HAM di Indonesia.

Sejumlah isu HAM yang disampaikan dalam pertemuan yang berlangsung selama hampir dua jam tersebut merupakan masalah – masalah HAM yang masih belum terselesaikan hingga saat ini. Isu kebebasan beragama dan berkeyakinan, konflik SDA dan lingkungan, isu agraria, Kejahatan yang dilakukan oleh Koorporasi, Pelanggaran HAM masa lalu, isu kelompok minoritas (LGBT), kekerasan atas nama kedaulatan (Kasus Papua), dan kekerasan atas nama gender.

Koalisi Masyarakat Sipil untuk HAM dan Komnas HAM berharap kepada Komnas HAM untuk melakukan advokasi HAM dan tidak terjebak pada isu tertentu. Sehubungan dengan peran Komnas HAM sebagai lembaga independen yang dibentuk oleh negara, Komnas HAM memiliki peran strategis untuk menyelesaikan kasus – kasus HAM seperti Kasus Lumpur Lapindo yang hingga saat ini belum tertangani. Koalisi Masyarakat Sipil untuk HAM dan Komnas HAM menuntut Komnas HAM untuk mengeluarkan laporan kejahatan yang dilakukan oleh koorporasi.

Koalisi Masyarakat Sipil untuk HAM dan Komnas HAM menyarankan ide “blusukan” yang sepekan ini hangat diperbincangkan. Komnas HAM harus mendatangi lembaga kepolisian, karena kasus penyiksaan semakin meningkat. Tidak ada perlindungan bagi korban. Komnas HAM harus memberikan pendidikan HAM dasar untuk membangun kesadaran aparat negara. ”Negara aktif melakukan pelanggaran HAM, Komnas HAM harus lebih tegas!!” sebagaimana disampaikan Muhammad Isnur dari LBH Jakarta.  Komnas HAM juga harus mengkaji sejumlah UU yang dihasilkan oleh kebijakan negara seperti Rancangan Undang – Undang Keamanan Nasional (RUU Kamnas), UU Penanganan Konflik Sosial (UU PKS), UU Kejaksaan serta Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang sedang dibahas di Komisi III DPR RI. Komnas HAM juga harus ikut memperhatikan kebijakan MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) yang dikhawatirkan akan menimbulkan dampak kriminalisasi bagi rakyat.

Kami perlu mengetahui agenda prioritas Komnas HAM selama 5 tahun, paling tidak setahun agar kami dapat membuat Strategi Engagement antara Koalisi dengan Komnas HAM. Perlu adanya mekanisme kerjasama untuk membahas isu – isu HAM secara terpisah, jika diformalkan lebih baik, tutur Indriaswati Saptaningrum Direktur Eksekutif ELSAM.

Koalisi Masyarakat Sipil untuk HAM dan Komnas HAM juga menyoroti persoalan internal Komnas HAM agar melakukan pembenahan sistem pengaduan dan data base pelanggaran HAM.  Disamping itu, Para Komisioner baru harus memiliki prespektif yang sama agar penanganan kasus kekerasan atas nama agama tidak berulang, di mana salah satu Komisioner Komnas HAM periode yang lama di nilai tidak berpihak kepada korban.

”Saya tidak bisa menjamin setiap komisioner memiliki prespektif yang sama, ini soal back ground tapi kami berusaha menyamakan presepsi dan perilaku pelayanan” respon Otto Syamsuddin Ishak kepada Koalisi. Yang akan kami lakukan saat ini adalah membangun partnership dengan organisasi masyarakat sipil untuk masalah – masalah HAM.  Sandra Moniaga menyampaikan bahwa kita akan membangun kesepahaman untuk kerja 5 tahun, paling tidak untuk isu prioritas tahun pertama sehingga dapat di evaluasi. Saat ini Komnas HAM masih menjalankan Rencana Strategis periode yang lama hingga 2014. Kita perlu membentuk Orkestra sehingga bunyinya sama ” tambahnya lagi.  Roichatul Aswidah menambahkan bahwa, untuk isu minoritas kami bahas juga. Ini soal bangunan organisasi Komnas HAM, di mana ada sub komisi berdasarkan fungsi. Kami akan berupaya bekerja lebih strategis dan sistematis, untuk komunikasi dan pengawasan perlu ditingkatkan.

Koalisi Masyarakat Sipil untuk HAM dan Komnas HAM akan secara regular mengadakan pertemuan dengan Komisioner Komnas HAM. Bahkan di titik paling strategis adalah sebelum sidang paripurna sehingga Koalisi dapat menyampaikan permasalahan – permasalahan HAM yang segera dan harus di tangani oleh Komnas HAM. (is)

tulisan ini telah dimuat sebelumnya di http://www.demosindonesia.org/laporan-utama/4796-negara-aktif-melakukan-pelanggaran-ham-komnas-ham-harus-lebih-tegas.html

Warung Penjaja Kopi : Karena di Pinggir, Semakin Terpinggirkan

“Kemana saja Gus? Hampir tiga minggu kok ga jualan? Sakit atau lagi hajatan?” sapaku pada seorang bapak yang sore itu terlihat sedang membuka tenda warung kopinya.  “Wah apes mbak ..kursi, tenda, diangkut Satpol PP. Nggak bisa jualan, ngumpulin modal dulu untuk bangun warung lagi”

Warung Kopi Pak Agus terletak di Jalan Otto Iskandardinata Jakarta Timur, biasanya warung itu buka sejak pukul 17.30 WIB hingga subuh menjelang. Namun hampir tiga minggu ini tak berjualan. Letak warung Pak Agus tak jauh dari rumahku.  Warung tersebut menjajakan kopi, susu, teh, aneka gorengan  dan mie rebus. Karena letaknya strategis, tak hanya warga setempat yang menikmati hangatnya kopi namun juga pelanggan lain yang kebetulan lewat di jalan tersebut.

Tak Jarang namun juga tak sering, aku turut menikmati racikan kopinya. Menjadi satu dari sekian pelanggannya, yang juga ikut nongkrong menonton bola di warung itu. Bagiku, warung kopi dengan konsep seperti ini, lebih murah, lebih hangat, karena diselinggi obrolan aktual seputar warga maupun kejadian yang terjadi.   

Pak Agus kemudian melanjutkan cerita kemalangan yang menimpanya. Sekitar pertengahan bulan April lalu, subuh itu hujan belum reda,sekitar pukul 03.00 WIB, ia disergap oleh satuan petugas Satpol PP.  Rombongan Satpol PP dengan tak ramah menghardik. Meski sempat adu mulut, ia tak bisa mengelak, beberapa peralatan telah terangkut ke mobil Satpol PP. Ia hanya berusaha menyelamatkan beberapa barang dagangan. Beruntung gerobak utamanya di dorong seorang pemulung masuk ke dalam lorong.

Sulit bagi Pak Agus untuk kembali berjualan. Ia membutuhkan dana sekitar satu juta. Ia harus membeli kayu, terpal dan beberapa barang dagangannya. Ia mengaku dibantu oleh beberapa warga meminjamkan kursi. Pak Agus kembali bertutur, ia kehilangan pemasukan selama warung kopi ini tutup.

Agus Haryono (56) merupakan warga Kelurahan Bidaracina, ia menetap di Jakarta sejak tahun 1975. Agus berasal dari Yogyakarta, Jawa Tengah. Sebelum membuka warung kopi pada tahun 2005, ia berjualan ayam potong di Pasar Mester Jatinegara. Usahanya tergolong maju, hingga dapat membeli sebuah lapak di pasar tersebut. Sebagian keuntungannya ia gunakan untuk membeli sebidang tanah di Bojong, Depok, Jawa Barat. Bagi bapak yang beranak lima orang itu, tanah merupakan tabungan hari tua keluarganya.

Namun nasib baik tak selalu berpihak padanya. Sekitar tahun 2000, istrinya menderita tumor di kaki. Upaya berobat dijalaninya dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain tidak membuahkan hasil. Atas saran keluarga, ia membawa istrinya ke Yogya untuk mendapatkan pengobatan alternatif. Bukannya sembuh, malah terancam amputasi. Kemudian ia kembali ke Jakarta dan berobat di RS Persahabatan, istrinya akhirnya dapat disembuhkan. Namun untuk biaya pengobatan tersebut, Agus harus merelakan lapaknya berpindah kepemilikan, ia menjual lapak seharga tujuh belas juta. Biaya pengobatan yang ia keluarkan sebesar lima belas juta. Sisa penjualan lapak tersebut digunakan Agus untuk menjual jagung bakar di depan Puskesmas yang lokasinya masih di Jalan Otto Iskandardinata. Hampir setahun usahanya itu berjalan, hingga akhirnya atas saran warga sekitar, Agus dapat membuka warung kopi. Agus diijinkan berjualan oleh Ketua RT dan petugas keamanan di lingkungan sekitar. Ia tak harus membayar biaya keamanan atau sewa selama berjualan. Namun ia dibebankan seratus ribu rupiah per bulan untuk biaya pemakaian listrik kepada salah seorang petugas PLN.

Ketika Agus menyebutkan biaya pemakaian listrik, ia menghela nafas panjang…“dulu waktu ada toko mebel, masih gratis mbak. Tapi ketika berganti pemilik dan usaha, saya harus mencari sumber listrik baru. Tapi ya itu, mahal sekali. Nggak bisa di tawar, atau sebulan digratiskan. Di seberang jalan itu, penjual pecel lele hanya membayar dua puluh lima ribu loh Mbak. Ini saja untungnya ga seberapa” Imbuh Agus.

Aku sempat penasaran dengan pungli liar ini, tapi pembicaraan kami terputus karena para pelanggan mulai berdatangan. Malam itu, sekitar tujuh orang memenuhi warung kopi Pak Agus. Tak sempat kami meneruskan percakapan kami.

Kemalangan Pak Agus, adalah satu dari sekian kemalangan yang dialami oleh Pedagang Kaki Lima (PKL).  Tergusur dari lokasi berjualan, dan kerap mendapat perlakuan arogansi dan petugas Satpol PP. Jika tidak digusur, mereka terancam gulung tikar dengan adanya mini market 24 jam yang menyediakan tempat yang lebih nyaman untuk ngopi dan bercengkrama. Pun, jika PKL direlokasi, perkembangan usahanya juga tidak begitu pesat dibandingkan lokasi mereka sebelumnya. Mengantungkan hidup pada usaha kecil menengah, tidak sepenuhnya dijamin dalam regulasi. DKI Jakarta belum memiliki Peraturan Daerah (Perda) PKL. Pemprov DKI juga terbukti lalai dalam menyediakan ruang tempat usaha bagi usaha kecil dan atau usaha informal/ pedagang kaki lima. Setidaknya 58% dari ruang publik DKI Jakarta tidak menyediakan ruang bagi PKL [1]  Kesulitan lainnya yang dihadapi PKL adalah tidak ada perlindungan terhadap usahanya. Mereka harus membayar jaminan keamanan bukan pada pihak yang tepat. Mungkin ini bukan hal yang baru, namun masih menyisakan pertanyaan adakah harap warga dibela oleh pemdanya?


[1] Penundaan Izin Minimarket Dicabut, Pemprov Gagal Tindak Mafia, http://www.bantuanhukum.or.id/index.php/id/berita/lbh-di-media?start=20

Pertambangan Rakyat

Emas yang Mengubah Pulau Buru, sebuah artikel di Kompas tanggal 21 Februari 2012 mengangkat persoalan Pertambangan Rakyat. Sehari sebelumnya, Kompas memuat persoalan tambang dan dampaknya mulai dari kerusakan lingkungan hingga konflik sosial. Sejumlah pemberitaan kemudian melansir, Bupati Ramli Umasugi, Pemerintah Kabupaten Buru, Maluku, gerah dan mengancam mengambil tindakan keras kepada para pendulang atau pencari emas jika mereka tidak mengosongkan lahan tambang.  Ancaman yang dibungkus dalam ‘himbauan’ ini berlaku mulai 22 Februari 2012. Larangan keras tersebut dikeluarkan karena makin rusaknya alam di lokasi eksplorasi, yakni di Pegunungan Wamsaid, Kecamatan Waepoangan.

Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batubara No. 4 tahun 2009 (UU Minerba) yang diterbitkan menggantikan UU No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan yang seyogyanya mengandung misi ideologis untuk memakmurkan rakyat, malah menjadi paradoks. Rakyat miskin di atas alamnya sendiri.  Rakyat hanya menerima residu dari usaha pertambangan. Bukan hanya kerusakan lingkungan dan pencemaran, tetapi juga kesengsaraan hidup akibat kekerasan atas nama hukum yang dzalim terhadap rakyat miskin[1]. Dampak pertambangan telah membuat masyarakat lokal tercerabut dari indentitas kulturalnya.

Menurut UU No. 11 Tahun 1967, defenisi pertambangan rakyat adalah suatu usaha pertambangan bahan – bahan galian dari semua golongan a, b dan c seperti yang dimaksud dalam pasal 3 ayat (1)[2] yang dilakukan oleh rakyat setempat secara kecil-kecilan atau secara gotong-royong dengan alat-alat sederhana untuk pencaharian sendiri.  Pertambangan rakyat yang kemudian diatur dalam UU Minerba adalah mengenai wilayah dan perizinan pertambangan. Pengaturannya dimuat BAB V Bagian Ketiga Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) Pasal 20 hingga Pasal 26 dan BAB IX Izin Pertambangan Rakyat (IPR) Pasal 66 hingga Pasal 73.

Kabar mendulang emas yang cepat tersiar ke seluruh Pulau Buru, mengakibatkan ribuan orang dari Sulawesi dan Jawa berdatangan dengan kapal laut. Masyarakat adat pemilik lahan tempat emas dieksploitasipun mendapat keuntungan. Setiap pendulang yang masuk diharus membayar Rp. 100.000. Ditelisik pada daerah lain, sekitar tahun 2009 juga terjadi penambangan emas oleh rakyat. Warga Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur merupakan warga yang menyandarkan hidupnya sebagai nelayan[3]. Tapi sejak pemerintah mengeluarkan izin pertambangan     PT Indo Multi Niaga yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan eksplorasi, warga lalu ikut menyerbu kawasan untuk melakukan penambangan. Entah darimana ijin tambang rakyat tersebut mereka peroleh. Warga menunjukan sikap tidak setuju dengan adanya penambangan yang dilakukan oleh PT Indo Multi Niaga, akhirnya tambang – tambang kecil menyerbu kawasan tersebut. Nelayan beralih fungsi menjadi penambang emas[4].

Pertambangan rakyat menurut JATAM, adalah proses penambangan dengan skala kecil dan tidak merusak lingkungan. Tambang rakyat menjadi bagian keseharian masyarakat. Namun tambang – tambang tradisional tersebut hancur karena masuknya tambang – tambang dengan skala besar. Kemudian muncul istilah Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) yang justru bersifat dilematis. Pada satu sisi, positif untuk kehidupan rakyat kecil namun negatifnya merusak lingkungan. Maka komprominya diberi ijin dan pembinaan dengan nomenklatur Izin Pertambangan Rakyat ( IPR). Ketentuan tentang IPR memang belum bisa menjamin apakah bisa dimanfaatkan oleh rakyat ataukan justru dimanfaatkan oleh cukong. Namun dengan memperhatikan pertimbangan kemampuan rakyat mengurus ijin, maka ijin untuk penambangan ini bisa didelegasikan ke camat. Pada Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) pembahasan RUU Mineral dan Batubara, ada pendapat yang mengenai IPR setelah UU disahkan, agar IPR diberikan melalui koperasi[5].

Sejarahnya tambang rakyat tidak pernah jadi perhatian pemerintah, padahal dari tahun ke tahun jumlah penambang skala kecil terus meningkat. Menurut data yang dikumpulkan Pusat Pengembangan Teknologi Mineral (PPTM) terdapat sekitar 77.000 operasi penambangan kecil yang menghasilkan hampir semua mineral untuk industri dengan nilai sekitar 58 juta dolar AS per tahun. Dari jumlah tersebut ternyata hanya 3% yang memiliki ijin[6]. Rendahnya jumlah penambang skala kecil yang mendapat ijin dari pemerintah lebih disebabkan oleh persoalan birokrasi yang rumit dan bertele-tele dalam memperoleh ijin penambangan. Selain masalah-masalah tersebut, kebijakan yang mendahulukan pemegang kontrak pertambangan daripada penambang rakyat, juga menuai konflik.

Selain persoalan ijin, penambangan rakyat tidak menjadi prioritas yang diurus pemerintah. Penambang rakyat tidak didampingi, agar dapat menggunakan teknologi yang aman bagi keselamatan mereka maupun lingkungan. Kawasan penambangan emas rakyat di Poboya Kecamatan Palu Timur, Palu, dicontohkan oleh Siti Maimunah, sebelumnya adalah kawasan ladang dan kebun – kebun milik masyarakat. Namun kini, Poboya disibukkan dengan ativitas pengolahan emas dan ratusan lubang digali oleh penambang rakyat dengan menggunakan alat sederhana. Karena minim mata pencaharian, maka lahirlah budaya pertambangan. Kasus lainnya adalah di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, tambang rakyat di kabupaten tersebut terpaksa ditutup. Pemda setempat mengemukakan bahwa selain menggali lubang-lubang di tepi sungai, penambangan rakyat dan mencemari air sungai dengan bahan kimia. kerusakan lingkungan yang parah akibat penambangan tersebut. ”Tambang rakyat memang di anak tirikan pada masa Soeharto, dan sampai masa sekarang diperlakukan sama aja” tegas Siti Maimunah.

Meskipun UU Minerba menyebutkan bahwa penetapan wilayah pertambangan dilaksanakan secara partisipasi, memperhatikan aspirasi daerah, serta memperhatikan aspirasi masyarakat, namun UU ini memiliki kelemahan dalam implementasinya yaitu pengakuan hak masyarakat atas ruang hidup. Kawasan masyarakat secara sepihak dijadikan kawasan pertambangan termasuk mengabaikan pertambangan rakyat yang merupakan hak hidup mereka. [7]

Riset kebijakan yang mengeksplorasi masalah representasi pada kebijakan sumber daya mineral yang dilakukan Demos saat ini, menemukan rendahnya kualitas representasi dalam proses penyusunan UU Mineral dan Batubara No. 4 tahun 2009 [8]. Undang – undang ini bukan saja lemah pada saat penjaringan aspirasi, namun pertambangan tidak menempatkan masyarakat sebagai subyek. Atau dapat dikatakan UU Mineral dan Batubara No. 4 tahun 2009 ini tidak me represent kepentingan rakyat. Esensi representasi demokratis bahwa kewenangan (authorization) dan akuntabilitas didasarkan para kesetaraan politik masih jauh dari capaian karena kehilangan penyangga yaitu transparansi dan  responsiveness. Hingga kini rakyat masih memimpikan negerinya yang kaya. Negeri yang dapat memberikan kesejahteraan bukan kesengsaraan. (is)


[1] Mewujudkan Hak Veto Rakyat atas Ruang Hidup. Lewat Uji Materi UU Pertambangan Mineral dan Batubara Mei 2011

[2] Pasal 3. (1) Bahan-bahan galian dibagi atas tiga golongan :a. golongan bahan galian strategis; b. golongan bahan galian vital; c. golongan bahan galian yang tidak termasuk dalam golongan a atau b.

[3] Tambang Emas. Emas Cemas di Tumpang Pitu Tempo Online 16 Maret 2009

[4] Wawacara dengan Siti Maimunah Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), 8 Februari 2012

[5] Laporan Penelitian Kebijakan Peran Representasi DPR-RI dalam Fungsi Legislasi Studi Kasus Penyusunan UU No. 4  Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, 2012

[6] ibid

[7] Wawacara dengan Pius Ginting Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), 8 Februari 2012

[8] ibid

Artikel ini dimuat dalam Kabar Demos Edisi Khusus http://www.demosindonesia.org/kabar-demos/4742-kabar-demos-edisi-khusus.html

Bocah Tanpa Alas Kaki

Sudah dua hari ini, keluarga kecil itu tidak kelihatan. Biasanya ketika bis yang kutumpangi berhenti di Terminal Kampung Melayu, keluarga itu sedang duduk – duduk di atas trotoar persis di bawah jembatan layang penghubung Jatinegara dan Tebet. Sang suami seperti biasanya tak lepas dari gitarnya.  Wajah perempuan disampingnya terlihat semakin tirus, lebih kurus ketika aku tak sengaja memperhatikannya tiga tahun yang lalu.

Sembari mengingat – ingat, pertemuan pertama dengan keluarga kecil itu juga di bis yang kutumpangi ini. Kopaja 502 Jurusan Tanah Abang – Kampung Melayu. Sepasang suami istri dengan kedua anaknya. Si bocah laki – laki dengan cemberut dan terlihat ogah – ogahan membantu tugas orangtuanya di atas bis. Mengamen. Bocah perempuan mereka masih sangat kecil, di gendong oleh ibunya.

Aku tidak mengetahui dengan pasti, apakah mereka penghuni trotoar Terminal Kampung Melayu. Yang kulihat kini, sang istri sedang mengandung. Keluarga itu akan kedatangan anggota baru, disaat anak perempuan mereka sudah bisa berjalan dan bermain – main di sekitar penjual gorengan, penjaja kopi dan sesekali nampak lucu memegang tangan polisi yang sedang bertugas menertibkan lalu lintas.

Tapi di manakah bocah laki – laki yang kerap cemberut dan marah itu? Bocah yang beberapa kali berhasil membuat ibunya berhenti menyanyi. Masih melekat dalam ingatan, bocah laki – laki tanpa alas kaki itu menangis tersedu – sedu ketika dipaksa naik ke dalam bis dari depan sebuah rumah sakit negeri. Bocah itu terlihat mengantuk dan lelah, iapun merengek. Mungkin karena takut dimarahi ayahnya, ia ikut menyanyi. Tapi aku tak mengerti apa yang ia ucapkan. Sungguh, wajah kecilnya itu membuatku pedih. Di sekitar wajah bocah itu terlihat bekas luka yang belum sembuh.  Tak terawat, tak diobati, tak mandi, dan sudah setengah tidur pula di bis itu. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, di bawah rinai hujan, ia masih menemani ayahnya bekerja. Ia menjadi penglaris ayahnya mencari sesuap nasi.

Wajah itu yang membuatku bertanya, kemana bocah itu? Apakah ia sudah bukan anggota keluarga pengamen bis kota itu lagi? Jangan – jangan ia di jual? Haduh, kenapa aku jadi begitu sedih dan merinding ketika pikiran itu melintas. Tapi aku juga tak tak pernah menyangka, bahwa aku akan terus bertemu dengan keluarga itu meski tidak setiap hari.

Dua hari yang lalu, mereka masih duduk di sana, berbagi gorengan dan kopi hangat. Wajah istrinya makin lesu, terlihat jelas beban hidup yang berat. Dengan perutnya yang semakin membuncit, ia hanya dapat bernyanyi satu lagu saat bis berhenti di bawah jembatan layang. Bahkan sesekali ia tak memperoleh belas kasihan dari para penumpang karena bis itu hanya “ngetem” sebentar. Ia hilang kesempatan untuk memamerkan suaranya.

Di pinggir jalan itu, sang suami memang sibuk memainkan gitarnya. Dengan pakaian lusuhnya, ia kerap berduet dengan istrinya. Hanya saja, aku masih teringat bocah laki – laki mereka. Harusnya ia ada bersama mereka. Lagi – lagi pikiranku melayang – layang, sakitkah dia? Atau sudah meninggal, atau anak itu telah menjadi korban perdagangan anak.

Jakarta, makin keras. Makin banyak pengamen dan penodong dalam angkutan umum. Gaya dan lakonnya beragam. Tak hanya jual suara, tapi juga jual tampang dan tubuh yang penuh tulisan, dan semua itu dilakukan untuk mendapatkan penghidupan. Layak atau tidak, tak ada cara lain bagi mereka. Tak cukup pendidikan, keahlian, terpinggirkan bahkan tidak menjadi prioritas dalam pembangunan manusia di Jakarta.

Di sudut hati, di sebagian pikir, ku selip ingatan tentang bocah laki – laki tanpa alas kaki. Semoga kau menemukan tawamu di tempat lain. Jika benar.

Kita Versus Korupsi

Berani jujur hebat!! Teringat slogan anti korupsi yang dikumandangkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat menonton Kita Versus Korupsi. Semalam, 2 Maret 2012 bertempat di Teater Salihara Pasar Minggu Jakarta Selatan, diputar Film Kita Versus Korupsi (K Vs K). Film ini merupakan hasil kerjasama KPK, Transparency International, USAID dan MSI sebagai bagian dari upaya mengkampanyekan anti korupsi di kalangan masyarakat luas.

Bersama dengan beberapa kawan dan sekitar 200 penonton lainnya, aku berkesempatan menonton K Vs K secara gratis yang penayangannya tepat Pukul 20.00 WIB. Ayu Utami selaku host memberikan pengantar sebelum film ini diputar, pada sesi akhir menurutnya akan ada diskusi mengenai film tersebut.

K Vs K terdiri dari empat film pendek yaitu Rumah Perkara disutradarai oleh Emil Heradi, Aku Padamu oleh Lasja F Susatyo, Selamat Siang, Risa! oleh Ine Febriyanti dan Pssstts….Jangan Bilang Siapa – Siapa oleh Chairun Nissa. Beberapa kisah diantaranya merupakan kisah nyata, yang sengaja diangkat agar persoalan korupsi terlihat sangat jelas memang ada disekeliling kita.

Film ini memberi pesan tentang perilaku korup dan korupsi yang terjadi dalam kehidupan sehari – hari kita, bahkan secara tidak sadar, kita menjadi bagian di dalam sistem tersebut. Norma, nilai dan sikap jujur yang dipegang teguh oleh seorang manusia biasa sungguh dipertaruhkan. Hilang jabatan, kelaparan, miskin bahkan mati.

Agus Ringgo, tokoh yang memerankan tokoh guru. Akhirnya menjadi badut, memilih jalan hati untuk setia pada kejujuran. Tora Sudiro, tokoh yang memerankan seorang penjaga gudang, tak punya harapan lebih selain memberikan makanan yang halal bagi keluarga dan anaknya. Praktek suap, mark up, kolusi terjadi bahkan sejak dalam keluarga. Merambah subur ke lembaga pendidikan, lembaga pemerintahan, dan kalangan bisnis. Tak main – main, pelakunya adalah anak sekolah, remaja, anak muda, hingga orang tua, laki – laki, perempuan. Pada film Rumah Perkara, bahkan membawa – bawa Tuhan dalam praktek suap. Nicolas Saputra dan Revalina S Temat, berdebat panjang di depan KUA. Meski “kelebet” menikah, jalan pintas menyuap petugas KUA agar memperlancar administrasi keduanya bukan pilihan tepat menurut Revalina. “Kamu adalah Cerminan Rumahmu”…kalimat sederhana tersebut mengandung makna yang dalam. Mengunggah.

Apa yang dapat kita lakukan kalau sudah demikian parahnya? Bebarapa anak muda terkesan pesimis setelah menonton film pendek ini. Sangat ekstrim, hukum mati koruptor kata mereka. Ada pendapat juga, apakah harus semenderita, sesengsara seperti tokoh – tokoh yang dalam K Vs K. Di depan pilihan kejujuran, adalah kemiskinan. Teten Masduksi, yang hadir sebagai narasumber mengingatkan para penonton, bahwa upaya melawan tindakan korupsi harus lahir dari dalam diri sendiri. Masih banyak lagi contoh perilaku korup, seperti membuang sampah sembarangan, merokok di dalam angkutan umum, serta menyontek terjadi disekitar kita. Ketidakpercayaan masyarakat kepada negara saat ini karena lemahnya penegakan hukum. Tetapi upaya membangun kesadaran antikorupsi merupakan tanggung jawab bersama, tutur Teten kembali.

Teten Masduki dkk berharap film ini akan diputar diseluruh Indonesia dan didiskusikan bersama. Tak ada kata lain selain LAWAN!! Jangan jadi bagian dari korupsi.

A Fuadi : Nama yang Sedang Disenandungkan

Uthlub ilma minal mahdi ila lahdi.Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat.A Fuadi, Negeri 5 Menara, Penerbit PT Gramedia Pustaka Umum 2009,  hal 190

Sejak tahun lalu, pemberitaan mengenai segera ditayangkan Film Negeri 5 Menara (N5M) di bioskop, membuatku sangat antusias untuk menontonnya. Hingga saat pemutarannya secara serentak tanggal 1 Maret 2012, aku menjadi orang yang menontonnya di hari pertama tersebut. Bersama dengan dua teman kantorku, kami menontonnya di Studio 2 XXI TIM Cikini Jakarta Pusat.

N5M merupakan film yang diadaptasi dari Novel Trilogi Karya A Fuadi. N5M sendiri merupakan sebuah novel yang terinspirasi dari kisah nyata penulisnya. Kita seperti tersihir setelah membaca kisah hidupnya. Dengan semangat yang berkobar – kobar, ikut meneriakan “Man Jadda Wajada”, mantra ajaib berbahasa Arab dengan makna siapa yang bersungguh – sungguh, akan berhasil. A Fuadi berhasil mendapat tempat di hati pembacanya.

Setelah membaca N5M, tiba – tiba aku ingin kembali pada masa SMA. Aku ingin menjadi laki – laki dan beragama Muslim. Aku ingin masuk Pondok Modern Gontor, agar bisa belajar dengan sungguh. Khayalan ini spontan hadir karena secara emosional, kisah hidup A Fuadi membuat aku memikirkan mimpiku yang masih tertunda. Secara usia, kami terpaut 5 tahun, diusianya sekarang ini, dia telah menggapai mimpinya. Aku ingin seberuntung dirinya, bisa mendapat beasiswa ke luar negeri. Menurutku, A Fuadi pantas mendapatkan keberuntungannya. Dalam novelnya, ia adalah laki – laki pekerja keras, pantang menyerah dan memiliki keteguhan hati.  “Man Shabara Zhafira” Siapa yang bersabar akan beruntung, A Fuadi membuktikannya melalui Novel berikutnya yang ia terbitkan Ranah 3 Warna (R3W).

Man Jadda Wajada, memang masuk dalam pikirku. Menjadi mantra penyemangat yang kuselipkan diam – diam. Ketika mantra itu kujadikan status pada BlackBerry Messenger (BBM), tiba – tiba seorang Ustad yang kebetulan menjadi temanku di BBM tersebut langsung merespon. “Tahu artinya apa Mbak?” sapa Sang Ustad. Mungkin beliau tertegun, dengan statusku. Seorang kristen, punya juga Quote Arab. Lantas ku jawab “siapa yang bersungguh – sungguh, akan berhasil”. Beliaupun memberikan tanda senyum.

Beberapa informasi yang kuperoleh, A Fuadi sering mengadakan diskusi mengenai cara mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Lewat komunitasnya, Komunitas Menara, A Fuadi juga menularkan ilmu menulis, membuka sekolah bagi anak – anak kurang mampu. Karya – karya lainnya yang tak luput aku baca adalah Berjalan Menembus Batas (Penerbit Bentang Januari 2012) dan Rahasia Penulis Hebat (Penerbit Gramedia Pustaka Utama Januari 2012). Akupun tak luput membaca tentang dirinya di sejumlah surat kabar, mengikuti kicauannya di twitter, menonton dirinya di televisi. Dia sesungguhnya menjelma sebagai manusia yang menebar semangat, lewat kata dia mampu merubah dunia. Lewat dirinya, akan hadir Alif – Alif (tokoh fiski yang memerankan A Fuadi) lainnya di Indonesia.

Manajemen Apresiatif di Rumah Baca

Dengan mengambil tema Manajemen Apresiatif, Rumah Baca kembali mengadakan pertemuan dengan komunitasnya pada Ahad pagi 26 Februari 2012. Acara yang dikemas dalam bentuk bedah buku dan diskusi ini, dihadiri sekitar 15 orang dari beragam profesi. Diskusi tersebut dilaksanakan di Rumah Baca yang berlokasi di Gang Majlis Taklim No. 25 A Bojongkulur Bogor dengan menghadirkan Risfan Munir, pengarang buku Manajemen Apresiatif sebagai narasumber.

Acara bedah buku dan diskusi Manajemen Apresiatif dimulai pada pukul 10. 30 WIB. Diskusi tersebut dimoderatori oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca. Hartono membagi alur diskusi menjadi tiga bagian yaitu pertama, latar belakang dan proses penulisan Buku Manajemen Apresiatif. Kedua, substansi manajemen apresiatif itu sendiri. Dan yang terakhir, tentang informasi buku – buku berkaitan dengan manajemen apresiatif  maupun teori berpikir positif.

Sebagai pembuka acara diskusi, Hartono menghadirkan Rumah Baca Kids untuk membacakan puisi dan nyanyian. Selain mengasuh Rumah Baca, Hartono bersama istrinya Indriyani juga mendampingi komunitas anak yang mereka namakan Rumah Baca Kids. Setiap hari minggu pagi, anak – anak yang bertempat tinggal disekitar Rumah Baca menjalankan aktivitasnya. Hartono menyampaikan bahwa komunitas ini dijalankan dengan tujuan untuk mengajarkan tanggung jawab, kebersamaan, menularkan semangat membaca, serta berupaya memotivasi anak – anak tersebut untuk dapat meraih cita – cita mereka.

Setelah penampilan Rumah Baca Kids, Hartono kemudian mempersilahkan Risfan Munir memaparkan isi Buku Manajemen Apresiatif. Pada Blog Rumah Baca, Hartono sebelumnya telah membagikan informasi tentang buku yang akan di bahas. Ia memuat dua resensi buku yaitu Buku Manajemen Apresiatif dan Terapi Berpikir Positif Karya Dr. Ibrahim Elfiky. Bagi Hartono, tidak sulit menghadirkan Risfan Munir dalam diskusi di Rumah Baca, karena mereka pernah bekerja pada satu lembaga yang sama.

Manajemen Apresiatif (Penerbit Kaifa, Juli 2011) merupakan buku kedua Risfan Munir. Buku pertamanya berjudul Samurai Sejati diterbitkan oleh PT Gramedia. Bagi Risfan Munir, tema buku yang ia angkat berasal dari bidang yang selama ini ia tekuni. Pengalamannya di bidang pemberdayaan masyarakat serta menulis berbagai modul pelatihan, menjadikan proses penulisan buku keduanya ini berjalan lancar. Baginya ada hal – hal umum di luar proyek kerja, yang dapat ia bagikan kepada masyarakat. Ia mengakui penulisan buku ini adalah misi pribadinya untuk membawa kabar kepada kalangan pengembang ekonomi lokal, pemerintah dan masyarakat dampingannya. Risfan Munir menggunakan kata kunci “presepsi”. Ilmu boleh sama, tetapi presepsi pasti berbeda, imbuhnya.

Risfan Munir menjelaskan bahwa dalam manajemen apresiatif terdapat unsur kecerdasan apresiatif.  Mengapresiasi hal – hal positif adalah yang paling utama diantara tiga pilar yang saling berelasi satu sama lain. Tiga pilar tersebut adalah nilai manfaat, reframe (ubah cara pandang) dan bagaimana melihat masa depan pada masa kini. Risfan, memperlihatkan cara kerja dari kecerdasan apresiatif melalui bentuk pohon yang ia sebut SIRAP.  SIRAP adalah Syukuri, Impikan, Rancang, Aplikasikan, Perbaiki.

Manajemen Apresiatif membutuhkan cara berpikir apresiatif, menciptakan hal – hal yang positif dan bagaimana mengaplikasikannya. Sebagai contoh sederhana,  ia mendorong kita untuk mengucapkan terima kasih kepada orang terdekat kita. Dalam pekerjaan baiknya tidak mencari kesalahan orang lain, tetapi bagaimana mencari solusi dan implikasi ke depan. Manajemen apresiatif merupakan tambahan dari sekian banyak tools seperti SWOT dan ZOPP yang digunakan untuk perencanaan proyek, bisnis atau lainnya. Intinya, logika manajemen apresiatif adalah tidak melihat dari kelemahan dan tantangan tetapi pada kekuatan dan kesempatan yang kita miliki.

Sebelum peserta menyantap hidangan makan siang. Hartono membagikan buku – buku dari Penerbit Serambi kepada beberapa peserta. Ia sengaja menempelkan kertas di bawah beberapa kursi peserta, sehingga yang beruntung akan mendapatkan buku secara gratis. Ia juga membagikan tiga Buku Mabuk Dolar di Kapal Pesiar diantaranya. Seluruh rangkaian acara bedah buku dan diskusi manajemen apresiatif berakhir pada pukul 13.30 WIB. Hidup hanya sekali, berikan yang terbaik!

Setia Pada Sebuah Janji

Kisah ini bermula ketika sebuah kecelakaan menimpa sepasang suami istri, Paige dan Leo Collins . Paige Collins diperankan oleh Rachel McAdams mengalami trauma pada otaknya, sehingga  mengakibatkan ingatannya hilang. Saat Paige terbangun dari komanya, ia menyangka suaminya Leo Collins (Channing Tatum) adalah dokter yang merawatnya. Paige hanya mengingat keluarganya, kuliah di bidang hukum dan memiliki tunangan bernama Jeremy (Scott Speedman).

Leo dan Paige diceritakan menikah tanpa kehadiran dan sepengetahuan orang tua Paige. Bagi Leo yang tidak memiliki keluarga, pernikahannya menjadi momen paling bahagia. Di depan kawan – kawan terdekatnya, ia mengucapkan janji untuk hidup bersama Paige, menjaga dan mencintainya. Rekaman pernikahan yang di tonton Paige tak lantas membuatnya dapat mengingat kejadian tersebut. Seluruh memori dengan Leo hilang. Ia sendiri lupa, bahwa selama bersama Leo ia seorang vegetarian, pekerja seni serta menyukai aliran  musik keras. Baginya Leo adalah orang yang baru dikenalnya.

Kisah ini kemudian mengingatkan kita pada Film 50 First Dates yang rilis pada tahun 2004. Film ini diperankan oleh Drew Barrymore dan Adam Sandler. Drew dikisahkan juga mengalami kecelakaan, yang mengakibatnya seluruh ingatannya hilang. Namun yang membedakan The Vow  dengan 50 First Dates adalah, film ini terinspirasi dari kisah nyata pasangan Kim dan Krickitt Carpenter. Pasangan ini mengalami kecelakaan di Farmington, New Mexico,  sepuluh minggu setelah pernikahan mereka tahun 1993.

Paige sendiri tak berupaya mengingat kisahnya dengan Leo. Paige memilih untuk berada bersama keluarganya. Leo berusaha menahan dirinya untuk tidak menjelaskan secara terbuka mengenai keluarga Paige, tentang alasan Paige meninggalkan keluarganya. Bagi orang tua Paige, keadaan Paige menguntungkan mereka. Mereka menutup rahasia ayahnya yang berselingkuh dengan teman baik Paige, tentang kuliahnya di bidang hukung yang tidak selesai serta pembatalan pertunangannya dengan Jeremy.

Pada suatu titik, Leo merasa tidak memiliki kesempatan lagi untuk mengembalikan Paige pada dirinya. Leo kemudian memutuskan mengajak Paige untuk berkencan. Mungkin dengan cara tersebut, ia  dapat merebut kembali cinta Paige. Mengajak Paige memulai dari awal. Namun Paige juga diketahui berkencan dengan Jeremy. Hal ini membuat usaha yang Leo lakukan untuk mempertahankan hubungan mereka menjadi hancur. Ayah Paige menggunakan kesempatan tersebut untuk memaksa Leo menceraikan Paige. Semua hal yang terindah di antara keduanya hilang.

The Vow yang di rilis pada 10 Februari 2012 ini, memang memikat dari awal hingga akhir. Film ini mengajarkan tentang pengorbanan dan kesabaran, tentang cinta yang tulus dan janji setia. Siapa yang tidak menaruh simpati pada Leo yang memilih untuk tidak membina hubungan cinta dengan wanita lain setelah bercerai dari Paige? Channing Tatum memang sempurna memerankan tokoh Leo. Channing Tatum tampan, dengan tubuh kekar, tenang serta setia merupakan dambaan setiap wanita. Kisah ini juga memberi memberi makna kepada kita tentang kehidupan, dimana kita sama sekali tidak dapat menguasi dan mengaturnya.

Meski kemudian ingatan Paige tidak kembali lagi, namun kebiasaan dan kejadian dalam hidupnya kembali berulang. Bahkan secara perlahan ia dapat mengetahui peristiwa – peristiwa yang tidak diingatnya melalui orang – orang yang ditemuinya. Pada kisah nyatanya, kedua pasangan ini akhirnya menikah lagi setelah keduanya terpisah lama. Kim dan Krickitt Carpenter dikaruniai dua orang anak. Hingga kini sebagian memori Krickitt itu tidak pernah kembali.  (Inggrid Silitonga)

Berpikir

Tidak berkegiatan itu bisa menjadi salah satu faktor kematian seseorang. Twiit seorang kawan di account twitternya. Pernyataan ini memang benar, meski tubuh tidak bergerak, tetapi otak kita terus bekerja. Dan untuk mengendalikan pikir membutuhkan cara. Jika membiarkan pikiran dipenuhi hayalan, maka yang dipikirkan itu sebagian besar tidak produktif. Orang memang membutuhkan ruang untuk berpikir, memastikan yang dipikirkan berasal dari lingkungan sekitarnya. Cogito ergo sum, artinya aku berpikir maka aku ada. Itu mengapa ada sebagian orang yang berprofesi sebagai pemikir. Hasil yang ia pikirkan itu untuk dipikirkan orang lain.

Mengapa akupun gelisah setiap tidak melakukan sesuatu. Jika tidak ada lagi yang harus dikerjakan, aku memilih tidur. Aku bahkan pernah tidur sepanjang hari. Alhasil, ketika keesokan harinya di tempat kerja aku malah terkantuk – kantuk. Maka di saat akhir minggu seperti ini, ketika seluruh pekerjaan rumah selesai aku akan mulai membaca, menonton film – film pilihan serta menulis. Jenis buku dan film yang kupilih bukan yang ringan. Agar aku bisa mengasah pikirku, ada hal yang bisa kukritisi.

Dulu aku sering membawa pekerjaan kantor ke rumah, membuatnya bagian yang tidak terpisahkan dengan waktu liburku. Bagiku jalan – jalan hanya membuang waktu dan tenaga. Aku bukan orang yang suka belanja atau sekedar window shopping untuk mengisi waktu libur. Aku akan mengisi waktuku jika memang aku membutuhkannya dengan ukuran yang pasti. Lain hal yang nongkrong di warung kopi, bisa jadi lebih produktif. Karena selain ngobrol, kita bisa membaca buku atau mendengar musik. Tapi kalau ngobrolnya tidak produktif, pikiranku jadi melayang – layang sendiri. Aku kadang tersiksa jika berada di taksi dalam waktu lama. Aku merasa tidak ada yang kulihat dan dapat kupikirkan sebagai akibatnya.

Pernah dalam suatu keramaian, saat keluargaku berkumpul, aku malah jadi sepi sendiri.  Harusnya momen – momen bersama keluarga bisa aku nikmati tetapi justru pikiranku kembali pada rutinitasku. Bukan karena senang menyendiri lantas aku bukan orang yang ramai. Aku juga suka bercerita, suka berkumpul, suka tertawa dan senang menceritakan hal – hal yang lucu. Tetapi pada satu titik aku membutuhkan ruang bagi diriku sendiri. Menikmati kesendirian.

Lalu malam ini, aku menulis tentang berpikir saat memikirkanmu. Setelah membaca buku dan beberapa artikel, menulis menjadi pilihan yang produktif. Hingga saat sebelum tidur malam, lalu besoknya melanjutkan berpikir.

Previous Older Entries

Arsip